Menelami Kisah di Balik Wajah-Wajah Yayasan
Sebagian besar makna yayasan ini berakar pada kisah hidup dan pengalaman para pendirinya
Ketua Yayasan
Lamadi de Lamato, Ketua Yayasan kami, adalah seorang penulis dan pemikir yang dibentuk bukan hanya oleh pendidikan, tetapi oleh perjalanan hidup yang panjang dan berliku. Lahir dan tumbuh di kawasan pesisir Jayapura dari keluarga sederhana, ia mengenal keterbatasan sejak usia dini—dan justru dari sanalah daya tahannya ditempa.
Masa mudanya dihabiskan dalam perpindahan dan perjuangan. Ia merantau dari satu kota ke kota lain, bertahan hidup sambil terus mencari ruang untuk belajar. Pendidikan ditempuh di berbagai tempat, hingga akhirnya ia melanjutkan studi di Jakarta. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia aktif dalam gerakan mahasiswa, diskusi intelektual, dan aktivisme era reformasi, sebuah fase yang mengasah kepekaannya terhadap isu keadilan, kemanusiaan, dan perubahan sosial.
Pengalaman tersebut membawanya ke dunia penulisan. Lamadi dikenal luas melalui karya-karya esai dan buku yang tajam, reflektif, dan berani. Ia menulis bukan hanya untuk mencatat peristiwa, tetapi untuk memberi makna. Beberapa karyanya, termasuk buku biografi tokoh publik dan catatan kritis tentang Papua, menjadi rujukan penting dalam diskursus sosial-politik.
Di luar dunia kepenulisan, Lamadi pernah mengabdikan diri dalam ruang-ruang pelayanan publik: sebagai staf ahli legislatif, penulis kebijakan, hingga juru bicara pemerintahan daerah. Namun perjalanan hidupnya tidak selalu berjalan lurus. Ia juga mengalami jatuh bangun, kehilangan posisi, dan harus kembali memulai dari nol—bahkan menjalani hidup sebagai penjual buku keliling demi mempertahankan idealisme dan keluarganya.
Perjalanannya berlanjut hingga ke Amerika Serikat, sebuah langkah yang diambil tanpa kepastian dan tanpa jaring pengaman. Di negeri asing, Lamadi menjalani hari-hari tanpa tempat tinggal tetap dan tanpa perlindungan sistem formal, berpindah dari satu ruang ke ruang lain, sembari bekerja apa pun yang tersedia untuk bertahan hidup. Pengalaman berada di titik paling rentan inilah yang membentuk ketangguhan, empati, dan kesadarannya akan martabat manusia.
Hari ini, sebagai Ketua Yayasan, Lamadi membawa seluruh perjalanan itu sebagai fondasi nilai. Ia percaya bahwa perubahan sosial tidak lahir dari wacana semata, melainkan dari keberpihakan, konsistensi, dan kerja yang berakar pada pengalaman nyata manusia. Bagi Lamadi, kepemimpinan adalah amanah: untuk mendengar, merawat harapan, dan membuka jalan bagi mereka yang kerap terpinggirkan.
Titik Temu yang Melahirkan Ikhtiar
Dalam perjalanannya di ruang publik, Lamadi de Lamato pernah bekerja sebagai staf ahli Angelina Sondakh, Pembina Yayasan ini. Pertemuan tersebut mempertemukan dua individu dengan latar dan jalur hidup yang berbeda, namun berbagi satu pengalaman mendasar: menjalani siklus jatuh dan bangun, kehilangan, dan keberanian untuk memulai kembali dari nol.
Keduanya juga pernah melalui fase hidup yang dibatasi oleh keadaan, dalam bentuk yang berbeda, namun dengan beban yang serupa. Fase-fase ini lahir dari pilihan hidup yang diambil, keputusan yang membawa konsekuensi nyata, dan keberanian untuk menanggung dampaknya. Angelina Sondakh pernah menjalani hilangnya kebebasan secara fisik, terpisah dari keluarga, serta hidup di bawah pengawasan dan stigma sosial yang kerap melekat bahkan setelah masa hukuman berakhir. Pengalaman tersebut menuntut keteguhan untuk bertahan, merefleksikan kesalahan, dan membangun kembali diri dalam keterbatasan.
Pada masa lain dalam hidupnya, Lamadi de Lamato memilih merantau ke negeri asing tanpa kepastian, sebuah langkah berani yang membawanya pada ketidakjelasan status hukum dan kehidupan di luar sistem perlindungan. Di lingkungan yang keras dan kompetitif, kondisi ini menjelma menjadi ujian sosial tersendiri, hadir melalui prasangka, pandangan merendahkan, serta kerentanan hidup tanpa jaminan dan pengakuan. Dalam kedua pengalaman ini, pembatasan tidak hanya bekerja pada tubuh atau status, tetapi juga menguji martabat, relasi sosial, dan rasa memiliki atas hidup sendiri.
Ketika kebebasan dicabut melalui hukuman penjara, dan ketika kehidupan dijalani di bawah bayang-bayang penindakan, deportasi, serta penyangkalan akses dasar, keduanya menghadirkan tekanan yang sama-sama menyeluruh. Dari pengalaman inilah dapat dipahami bahwa hilangnya akses dan kesempatan muncul sebagai konsekuensi nyata dari pilihan hidup, yang menuntut ketangguhan untuk bertahan, belajar, dan bangkit kembali.
Keduanya belajar bertahan dengan apa yang tersedia dan dengan kemampuan yang dapat mereka jangkau. Pekerjaan serabutan dan rutinitas yang menekan menjadi bagian dari keseharian tanpa privilese, yang perlahan membentuk kepekaan terhadap kerendahan hati, daya lenting, dan arti bertahan hidup. Pengalaman hidup yang tidak selalu berjalan lurus inilah yang menumbuhkan pemahaman bersama tentang ketekunan, daya tahan, dan tanggung jawab moral.
Yayasan Cahaya Hati lahir dari kesadaran tersebut sebagai ruang ikhtiar untuk perubahan yang tidak menafikan kegagalan, melainkan memaknainya sebagai bagian dari proses bertumbuh. Nilai ini kemudian diterjemahkan ke dalam kerja yang berpihak dan berkelanjutan, dengan setiap inisiatif dirancang berangkat dari pemahaman atas keterbatasan, kejatuhan, dan potensi manusia.